
TEKNOLOGI digunakan dari berbagai usia hingga tanpa disadari anak-anak tumbuh menjadi “digital native”. Digital native merupakan istilah untuk anak-anak yang lahir dan tumbuh di era digital. Oleh karena itu perlu untuk adanya “digital education” sebagai bekal anak dalam menghadapi dunia di masa mendatang. Salah satu upaya untuk mewujudkan “digital education” adalah dengan mengembangkan kemampuan computational thinking. Computational thinking merupakan kemampuan yang dianjurkan untuk dimiliki anak di abad ke-21 sebagai upaya mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmu komputer
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia juga telah mengusulkan kebijakan baru untuk mengintegrasikan computational thinking ke dalam kurikulum merdeka. (Budiansyah, 2020). Meski tidak menuangkan penyebutan computational thinking secara langsung, namun pemerintah memberikan kebijakan terkait pengajaran teknologi pada anak usia dini dalam (Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset Dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022 Tentang Standar Isi Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, Dan Jenjang Pendidikan Menengah, 2022) yang menyatakan bahwa salah satu lingkup materi pada pembelajaran PAUD adalah penggunaan dan perekayasaan teknologi yang diperkenalkan secara bertahap dan menyenangkan mulai dari teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Cakupan capaian pembelajaran pada anak usia dini salah satunya yaitu anak menunjukkan kemampuan literasi dan dasar-dasar sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika untuk membangun kesenangan belajar dan kesiapan mengikuti pendidikan dasar
Beberapa konsep berpikir komputasional untuk anak usia dini adalah:
- Dekomposisi,
yaitu menguraikan permasalahan yang komplek atau sistem menjadi permasalahan yang lebih sederhana. atau dapat di istilahkan dengan memecah masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
“Memecah tugas besar untuk mencapai tujuan menjadi langkah langkah kecil.”
- Pattern Recognision (Pengenalan pola)
Yaitu pemilihan pola – pola dan megelompokkan yang polanya sama diantara atau di dalam permasalahan.
“Mengenali pola, simbol, atau tanda tanda untuk mencapai tujuan”
- Abstraksi
Yaitu fokus pada hal yang penting dan relevan serta mengabaikan yang tidak penting.
“Fukus pada informasi penting yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan mengabaikan hal – hal yang tidak relevan”
- Algoritm Design
Menyelesaikan permasalahan dengan cara yang sistematis SMART (Specific, Measurable, Attainable/ Achievable, Relevant, Timebased) “Menyusun langkah yang jelas untuk mencapai tujuan.”
Contoh Materi Computational Thinking untuk PAUD
Tema: “Mengenali Bentuk Bidang”
Judul Soal: “Mengumpulkan Bentuk-Bentuk untuk Gambar Besar”
Deskripsi Soal: Anak-anak akan belajar mengenali dan mengelompokkan berbagai bentuk bidang seperti lingkaran, segitiga, persegi, dan persegi panjang. Tugas mereka adalah mengidentifikasi dan mengumpulkan bentuk-bentuk tersebut dari kumpulan bentuk yang berbeda, lalu menyusunnya menjadi gambar besar, seperti rumah atau kendaraan. Aktivitas ini membantu anak-anak memahami konsep bentuk dan bagaimana bentuk-bentuk tersebut dapat digabungkan untuk membentuk objek yang lebih kompleks.
Komponen Computational Thinking yang Diterapkan:
1. Dekomposisi (Decomposition):
o Penjelasan: Anak-anak akan memecah tugas besar, yaitu membentuk gambar besar (misalnya, rumah atau kendaraan), menjadi beberapa langkah kecil seperti mengenali bentuk-bentuk bidang dasar (lingkaran, segitiga, persegi), lalu mengelompokkan dan menggabungkannya.
o Implementasi: Guru membantu anak-anak memecah proses membuat gambar besar menjadi langkah-langkah sederhana, seperti pertama-tama mengenali setiap bentuk bidang yang diperlukan, kemudian mengelompokkan bentukbentuk tersebut, dan akhirnya menyusunnya menjadi gambar yang diinginkan.
2. Pengenalan Pola (Pattern Recognition):
o Penjelasan: Anak-anak akan mengenali pola dalam bentuk-bentuk bidang dasar yang sering muncul, seperti melihat bahwa sebuah atap rumah bisa dibentuk dari segitiga, atau roda kendaraan dari lingkaran
o Implementasi: Guru menunjukkan bagaimana bentuk-bentuk bidang dapat dikenali dan dihubungkan untuk membentuk pola yang lebih besar, seperti menggabungkan dua persegi dan satu segitiga untuk membuat bentuk rumah sederhana.
3. Abstraksi (Abstraction):
o Penjelasan: Anak-anak akan fokus pada ciri-ciri penting dari bentuk-bentuk bidang (misalnya, jumlah sisi, panjang sisi) yang digunakan untuk membentuk objek yang lebih besar, dan mengabaikan detail-detail yang tidak relevan, seperti warna atau ukuran yang tidak mempengaruhi bentuk.
o Implementasi: Guru mengajarkan anak-anak untuk hanya fokus pada bentuk dan ciri-ciri geometrisnya, seperti segitiga memiliki tiga sisi, persegi memiliki empat sisi yang sama panjang, dan mengabaikan hal-hal seperti warna yang tidak penting untuk pembentukan gambar.
4. Desain Algoritma (Algorithm Design):
o Penjelasan: Anak-anak akan menyusun urutan langkah yang jelas untuk mengumpulkan dan menggabungkan bentuk-bentuk bidang menjadi gambar besar, seperti mengenali bentuk, memilih bentuk yang sesuai, dan menyusunnya di tempat yang tepat. o Implementasi: Guru membantu anak-anak menyusun urutan langkah-langkah yang diperlukan untuk membentuk gambar, misalnya “Langkah pertama: Temukan bentuk persegi untuk dinding rumah. Langkah kedua: Temukan bentuk segitiga untuk atap. Langkah ketiga: Tempatkan bentuk-bentuk ini di tempat yang tepat untuk membentuk rumah.”
Langkah-langkah Pembelajaran:
1. Pendahuluan: o Guru memperkenalkan tema “Mengenali Bentuk Bidang” dan menjelaskan bahwa anak-anak akan belajar mengenali bentuk-bentuk dasar seperti lingkaran, segitiga, persegi, dan persegi panjang. o Guru menunjukkan beberapa bentuk bidang dan memberikan contoh bagaimana bentuk-bentuk ini dapat digunakan untuk membuat gambar yang lebih besar, seperti rumah atau kendaraan.
2. Aktivitas Dekomposisi:
o Anak-anak memecah tugas besar membuat gambar menjadi langkah-langkah kecil, seperti pertama-tama mengenali setiap bentuk bidang yang diperlukan untuk gambar, kemudian mengelompokkan bentuk-bentuk tersebut. o Guru membantu anak-anak fokus pada satu langkah kecil pada satu waktu, seperti mengenali bentuk persegi yang diperlukan untuk dinding rumah.
3. Aktivitas Pengenalan Pola:
o Guru menunjukkan pola dalam bentuk-bentuk bidang yang sering muncul dalam gambar, seperti segitiga untuk atap rumah atau lingkaran untuk roda kendaraan. o Anak-anak mengenali pola ini dan mengikuti urutan langkah-langkah tersebut saat menyusun gambar besar.
4. Aktivitas Abstraksi:
o Anak-anak diajarkan untuk fokus pada ciri-ciri penting dari bentuk-bentuk bidang, seperti jumlah sisi dan bentuk geometrisnya, sambil mengabaikan detail yang tidak relevan seperti warna atau ukuran yang tidak mempengaruhi bentuk. o Guru membantu mereka menyederhanakan tugas dengan hanya memperhatikan elemen-elemen penting yang diperlukan untuk membentuk gambar. 5. Aktivitas Desain Algoritma: o Anak-anak menyusun urutan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengumpulkan dan menggabungkan bentuk-bentuk bidang menjadi gambar besar dengan bantuan guru. o Setiap langkah dijelaskan secara berurutan, misalnya, “Pertama, temukan persegi untuk dinding rumah. Kedua, temukan segitiga untuk atap. Ketiga, gabungkan bentuk-bentuk ini di tempat yang tepat untuk membuat rumah.”
Evaluasi Hasil Pembelajaran:
o Setelah gambar besar selesai disusun, guru mengajak anak-anak berdiskusi tentang langkah-langkah yang mereka ambil dan mengapa urutan tersebut penting untuk membuat gambar yang jelas dan rapi. o Anak-anak diberi kesempatan untuk merefleksikan pengalaman mereka dan berbagi hasil kerja mereka dalam menyusun gambar dari bentuk-bentuk bidang.
Penerapan Pembelajaran Mendalam :
• Pembelajaran Kontekstual: Aktivitas ini membantu anak-anak memahami bentukbentuk geometris melalui aktivitas yang praktis dan relevan, seperti membuat gambar dari bentuk-bentuk dasar.
• Pembelajaran Berbasis Proyek: Membuat gambar besar dari bentuk-bentuk bidang merupakan proyek kecil yang melibatkan keterampilan pengenalan pola, pengelompokan, dan pengambilan keputusan.
• Fleksibilitas: Guru dapat menyesuaikan tingkat kesulitan tugas, seperti jumlah bentuk yang harus dikenali dan digunakan, sesuai dengan kemampuan dan minat anak-anak.
• Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis: Aktivitas ini mendorong anak-anak untuk berpikir secara logis, mengenali pola, dan mengikuti langkah-langkah yang sistematis untuk menyelesaikan tugas mereka.
- (Silvia et al, 2021; AcevedoBorrega et al., 2022)
- (Gerosa, Koleszar, Tejera, G´omez-Sena, et al., 2021; Selby, 2015; Tabesh, 2017; Yadav et al., 2017).
3. Workshop Computational Thinking Biro Bebras Universitas Widyagama Malang kerjasama sama dengan PW. HIMPAUDI Jatim